Kisah Sukses Buat Produk tapi Ambyar Saat Dijual

Tahun lalu sempat punya ide untuk membuat software hotel, untuk manajemen booking termasuk untuk interkoneksi dengan marketplace hotel.

Valdiasi Dulu Idenya

Oke, seperti biasa, aku validasi dulu ide software hotel ini.

Software hotel dikemas dalam model SAAS, dijual per kamar. Keunggulan dari yang ada adalah sudah include software booking dan software koneksi ke marketplace hotel. Software di cloud, jadi si pemilik hotel tidak perlu investasi infrastruktur.

Lanjut buat landing page, kemudian diiklankan ke google adwords, facebook ads dan instagram ads. Singkat cerita, ternyata ide ini valid. Setelah diiklankan, banyak yang minat dengan konsep bisnis ini. Beberapa calon customer bahkan ngebet nelpon-nelpon terus pingin segera cusss..

Dikarenakan produk belum ada, hanya ada landing page, jadi ya hanya bisa kita janjikan beberapa bulan lagi akan launching, nanti dikabari kalau sudah jadi.

Semangat membara, langsung rekrut developer2 nomor wahid, untuk mewujudkan ide diatas.

3 bulan develop, produk jadi, dan dilaunching …

Dari sini baru ketahuan, ternyata banyak hal yang belum ter-cover diproses validasi dulu. Misalnya, ternyata calon-calon pembeli itu masih dalam proses membangun hotelnya, mereka masih riset software yang akan digunakan. Nhah, hotelnya jadinya masih 1-2 tahun lagi, wwkwkwk

Ternyata lagi, koneksi ke marketplace hotel ga semudah mengkoding, hampir semua marketplace itu tidak open API, harus bekerjasama dulu baru bisa terkoneksi. Ya apalah aku hanya remah-remah gini mau kerjasama sama mereka-mereka.

Dan masih banyak ternyata-ternyata yang lain, yang itu baru muncul setelah produk jadi.

Akhirnya???

Pada akhirnya software hotel yang sudah jadi itu direlakan dipakai oleh beberapa klien saja, dan diputuskan ga dilanjutkan. Nyesekk..

Namanya orang jawa, apapun yang terjadi masih tetep ngomong “untunggg”, untung kemarin baru bikin produk MSP nya, cuman 3 bulan.

Dari pengalaman ini, bisa diambil pelajaran penting ini:

1. MSP

Buat produk MSP (Minimum Sellable Product) dulu, jangan langsung babat habis bikin produk super bagus dan super lengkap. Bayangkan sudah develop selama 2 tahun, ternyata hasilnya ga sesuai, dan produknya cuman dibuang, rugi berapa?

2. Develop Maks 3 Bulan

Aku biasanya punya patokan buat produk MSP maksimal 3 bulan, jangan lebih. Kenapa 3 bulan?

  • Modal untuk bayar gaji selama 3 bulan masih mahsook
  • Secara mental masih sehat, belum burnout, jadi masih ada sisa mental untuk menjual. Coba kalo developnya 2 tahun, sudah capek setengah mati, setelah produk jadi, dah ga kuat mental untuk menjual.
  • Kalau produk terlalu lengkap, nanti ternyata banyak yang perlu diubah jadi lebih repot. Kalau produk masih simpel, lebih mudah untuk belok kanan dan kiri.

3. Iterasi

Setelah produk versi 0.001 jadi, langsung mulai jualan. Temukan customer ke 1 hingga ke 10. Ini customer yang jauh lebih penting dibanding puluhan ribu customer berikutnya. Dari customer early adopter ini, korek apa yang bisa diperbaiki dari produkmu, apa yang perlu ditambah, apa keluhan mereka, apa yang bikin mereka suka, apapun itu.

Dari input customer ini, iterasi produk mu, terus kembangkan, terus perbaiki. Aku biasa men-deploy update software terbaru setiap 3-7 hari, jadi setiap saat selalu diperbaiki softwarenya, sesuai dengan arah perusahaan dan input dari customer.

Oh ya, hargai 10 customer pertama-mu ini, mereka sudah rela membayar produk yang masih sangat baru, dari brand yang sangat tidak dikenal, dari orang yang belum tentu kompeten, dari produk yang belum teruji. Tapi mereka rela berkorban membeli produkmu, dan mencoba menggunakannya.

Kesimpulan

Produk yang gagal saat dipasarkan susah dicegah, tapi kita bisa meminimalisir dampaknya. Ga perlu jadi berantem sama istri, ga perlu trus bunuh diri.

Pernah punya pengalaman serupa? Semangat bikin produknya, ambyar saat dipasarkan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *