98% Idemu Itu Sampah, Makanya Validasi Dulu!

Ideas are cheap, execution is everything.

Chriss Sacca, Investor in Twitter & Uber

Banyak yang mengamini quote dari Chriss Sacca di atas, aku sih kurang setuju. Menurutku ide itu bukan cuman murah, tapi sampah!

Kita jalan 100 meter dari rumah, ngobrol sama satu penjaga counter pulsa aja sudah bisa dapet banyak banget ide cemerlang. Semua orang bisa punya ide, semua orang bisa bilang “ah aku punya ide kayak tokopedia itu 5 tahun sebelumnya”. Ya iya, situ sih ngomong doang, gampang!!!!

Tokopedia, bukalapak dan shopee itu sudah banyak contohnya diluar sana. Gojek dan Grab itu kan kopi paste Uber. Ide unicorn-unicorn itu kan sampah banget, niru yang udah ada, modif dikit, eee kok ya jadi.

Apa yang beda antara tokopedia sama marketplace punyanya telkom? Apa bedanya bukalapak sama marketplace punyanya bank-bank dan operator-operator seluler? Beda dieksekusi! Tokopedia mengeksekusi lebih baik dari rekan-rekan sejawat yang lebih tajir, dah gitu aja.

Semua Ide Harus di Eksekusi?

Misalnya nih, sewaktu buang air besar aku dapet 10 ide cemerlang, nha trus ide ku ini sampah semua? Gimana cara membuktikan ideku ini? Apa ya semua ide terus dieksekusi sebagus mungkin supaya ga jadi ide sampah?

Itu problemnya. Kalau semua dieksekusi ya boncos…

Ide Itu Harus Di-Validasi Dulu

Nhah, kalau punya ide yang bikin kamu loncat2 kegirangan dan membayangkan jadi the next unicorn, hmmm.. coba deh jongkok bentar, pegang kepala, terus yakinkan diri kalau ide-mu itu sampah.

Next, kalau masih yakin ide-mu itu sempurna, tugas berikutnya validasi dulu ide-mu itu.

Validasi ini untuk pembuktian awal aja, kalau ide pantas untuk dicoba dieksekusi. Catat: ide yang sudah tervalidasi juga belum tentu berhasil saat dieksekusi.

Bagaimana Aku Memvalidasi Ide Selama 17 Tahun Terakhir?

Validasi ide itu murah dan mudah, jadi jangan di-skip dan langsung menuju eksekusi, daripada nyesel. Nhah 17 tahun terakhir ini aku rutin dapet ide, divalidasi, jika berhasil dieksekusi. Jika gagal, balik rebahan lagi..

Oke berikut langkah-langkahnya:

1. Matangkan Ide

Ide harus dimatangkan dulu, jangan masih setengah matang langsung ditelan aja.

  • Ide harus punya target pasar yang jelas
    Produk mu, mau dijual kesiapa? Umurnya berapa? Jenis kelamin apa? Pekerjaannya apa? Tinggalnya dimana? Berbahasa apa? Minatnya bidang apa?
    Semakin jelas targetmu, semakin bagus.
  • Produknya harus jelas dan detail
    Pastikan produknya apa yang mau dipasarkan! Apa spesifikasinya? Apa bedanya dengan toko sebelah? Apa keunggulannya? Mengapa produkmu bakal disukai pasar?
    Produkmu berupa jasa, atau berupa makanan, atau berupa investasi bodong, apapun itu, pastikan kamu punya gambaran jelas 4 dimensi tentang produk yang akan kamu jual.
  • Kamu tahu cara memproduksi produknya
    Skenario terbaiknya, kalau ternyata idemu tervalidasi maka akan sia-sia kalau ternyata kamu ga bisa bikin produknya.
    Misalnya, mau buat produk berupa baterai HP yang tahan satu tahun. Ternyata valid idenya, ee pas mau dieksekusi mau bikin produknya ga bisa. Jebulnya cuman ngimpi aja

2. Siapkan perangkat minimal promosi

Siapkan perangkat promosi, seolah-olah produkmu sudah siap. Misalnya mau jualan mesin printer ajaib, kamu mau memasarkan dengan cara bagi-bagi brosur ke kampus, jadinya buat brosurnya yang bagus, seolah-olah mesin printer ajaibnya sudah ready.

Termasuk juga, siapkan prototype produk, seminimal mungkin. Misalnya mau buat website perjodohan, paling tidak buat website halaman depan website perjodohannya, supaya terlihat beneran.

Untuk lebih jelasnya baca di bagian bawah artikel ini, contoh kasus validasi produk yang aku lakukan setahun yang lalu.

3. Lakukan promosi, analisa hasilnya

Alat promosi siap, langkah selanjutnya langsung aja promosikan ide mu. Langsung jual, bicara langsung sama calon pelanggan, dapatkan komentar-komentarnya. Dari sekian hari kamu promosi, catat berapa biaya promosi, berapa customer yang tertarik, berapa yang ngebet banget.

Kalau yang didapat hanya segelintir orang tertarik, tidak ada yang ngebet banget pengen beli, berarti ide mu sampah.

Kalau yang tertarik banyak, yang ngebet pengen beli ada beberapa, berarti ide mu valid.

Dan hal-hal lain silakan di-analisa, kira-kira mahsook apa enggak.

4. Lanjut ekeskusi, refine, atau buang

Setelah di-analisa, kamu bisa putuskan, apakah menjanjikan untuk dicoba dieksekusi? Apakah perlu diubah-ubah sedikit idenya, untuk dicoba lagi divalidasi, dan kembali ke langkah 1. Atau, apakah ide mu terbukti sampah dan ya udah buang aja.

Its your call.

Contoh Kasus: Bagaimana Aku Tahun Lalu Memvalidasi Ide

Begini ceritanya, tahun lalu ngobrol ngalor dan ngidul sama temen kuliah. Larut malam, kami menyimpulkan kalau software sistem informasi akademik (SIA) itu masih banyak ceruk pasarnya. Banyak kampus-kampus kecil dengan mahasiswa di bawah 2000 orang tidak mampu membeli SIA, karena terlalu mahal, terlalu ribet.

  1. Matangkan ide

Oke, langkah 1.a sudah terpenuhi. Kami punya target pasar kampus-kampus kecil, di pinggiran-pinggiran pelosok negri.

SIA yang saat itu ada, sebagian besar on premise. Kampus harus menyediakan infrastruktur, menyediakan server, listrik, genset, sys admin, dll dsb supaya bisa mempunyai SIA. Selain biaya setup awal yang sangat mahal, kampus juga perlu membeli harga software yang bisa mencapai milyaran.

Kami mau membuat produk berupa SIA, yang di SAAS kan. Kami mau menyewakan software, alih-alih menjualnya. Kampus kecil tidak perlu siapin server, listrik, dll dsb. Mereka hanya perlu daftar di web kami, dan saat itu juga bisa langsung digunakan. Mau KRS Online, mau absensi online, mau penerimaan mahasiswa, bisa!

Tak perlu lagi instalasi dll dsb, karena software ada di cloud, kampus hanya perlu koneksi internet untuk mengakses software SIA kami.

Biayanya?

Daripada membayar 1 Milyar, kami buat pembayaran perjumlah mahasiswa tercatat. Misalnya satu mahasiswa biayanya 5rb perbulan. Kalau kampusnya berisi 100 mahasiswa saja, berarti perbulan hanya perlu mengeluarkan uang 500ribu. Kalau mahasiswanya sudah 10 ribu, ya tinggal dikalikan. Sangat demokratis, kampus kecil ya bayar kecil, kampus kaya ya bayar mahal. Sesuai kemampuan.

Jadi langkah ke 1.b terpenuhi. Kami sudah membayangkan seperti apa produknya nanti.

Berikutnya langkah 1.c, cara memproduksi produknya. Itu sih sudah diluar kepala, lebih dari 1 dekade kerjaannya coding aja di depan komputer. Jadi kami mengabaikan tentang nanti cara produksinya gimana, cing cay lahhh…

2. Siapkan perangkat minimal promosi

Karena kami akan memasarkan SIA ini online, maka kami bikin web sederhana, orang sana bilangnya “landing page”.

Satu halaman sederhana, tertera keterangan singkat apa yang kami jual, berapa biayanya, fiturnya apa saja, kemana harus kontak kalau minat, dan sebagainya.

Kami membuat landing page hanya 1-2 hari, tapi tampilan landing page nya ga kalah sama web-web jualan SIA yang sudah ada. Beneran! 😀

Caranya tinggal beli domain dan hosting di IDwebhost, install wordpress, cari template yang bagus, terus isi kontennya. Dah gitu aja, jangan dipersusah hidupmu:p

3. Lakukan promosi, analisa hasilnya

Hari berikutnya, langsung tancap gas promosikan landing page kami.

Caranya?

Login google adwords, pasang iklan, beberapa menit kemudian sudah berdatangan orang yang kontak. Iya, segampang itu.

Kami memasang iklan selama 5 hari kerja, kemudian merekap hasilnya, diobrolin bersama hasilnya, dan disimpulkan untuk menangis bersama, ehh …

Jadi gini, ternyata dari beberapa yang kontak menanyakan tentang software SIA, sebagian besar mereka tidak serta merta tertarik. Mereka ternyata lebih percaya pada SIA yang sudah ada, yang sudah terbukti beresnya. Kami tak menduga, ternyata reputasi sangat dibutuhkan, beda sama dunia retail.

Ternyata lagi, pengambil keputusan menggunakan SIA ini berbelit, karena jadi ruh nya kampus, mereka tidak bisa serta merta memutuskan. Akan ada banyak rapat-rapat internal kampus, hanya untuk membicarakan mau menggunakan SIA yang mana. Kami pun tak menduga, cost untuk sales rep tidak kami perhitungkan. Cycle yang dibutuhkan untuk closing mungkin bisa 1-2 tahun. Bagaimana dompet kami bisa bertahan????

Dan masih banyak lagi hambatan-hambatan yang kami ketahui saat memvalidasi.. entar ga habis satu buku kalo diceritakan semua.

4. Lanjut ekeskusi, refine, atau buang

Melihat hasilnya, sudah yakin 99%, kami tak akan mengeksekusi ide bodoh ini. Perlu dimodifikasi habis-habisan idenya, atau pivot, atau udah pulang aja rebahan.

Kesimpulan

Meskipun ide tidak valid, aku jadi sujud syukur juga. Bayangin sudah terlanjur bikin software SIA nya dengan lembur selama 1-2 tahun, ternyata pas dipasarin baru tahu gak jualable. Berapa waktu, tenaga dan biaya yang terbuang percuma?

Mendingan agak repot dikit memvalidasi ide selama satu minggu, daripada menderita 2 tahun tak berguna.

Setelah ide SIA itu gagal, aku bulan berikutnya masih coba validasi ide yang lain lagi dan ternyata gagal lagi. Bulan berikutnya lagi, mencoba memvalidasi ide baru lagi, dan pada percobaan ketiga ini ternyata berhasil. Cerita lengkapnya dipostingan berikutnya aja yah.

Gimana, kamu punya ide sampah apa? Tulis komen ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *